Studi Tema

Nabi Yang Akan Datang dalam Alkitab

May 24, 2026 oleh Onekhesi Zega

Mengenal Kristus sebagai Suara Allah yang Harus Didengarkan

“Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.”
Ulangan 18:15

Pengantar: Manusia Selalu Mencari Suara

Manusia tidak pernah hidup tanpa suara. Setiap hari ada suara yang membentuk pikiran, keputusan, ketakutan, harapan, dan arah hidupnya. Tetapi tidak semua suara membawa manusia kepada Allah.

Ketika hidup terasa gelap, manusia mencari petunjuk. Ketika masa depan tidak pasti, manusia mencari tanda. Ketika hati gelisah, manusia mencari kepastian. Ada yang mencari melalui ramalan. Ada yang mengikuti suara mayoritas. Ada yang hidup dari dorongan ketakutan. Ada yang membiarkan tren, tokoh populer, pengalaman pribadi, atau suara dunia membentuk jalan hidupnya.

Tetapi pertanyaan besarnya adalah: suara siapakah yang benar-benar berasal dari Allah?

Pertanyaan ini bukan baru muncul pada zaman modern. Sejak dahulu, bangsa-bangsa mencari arah melalui tenung, ramal, sihir, mantera, arwah, dan berbagai praktik gelap. Dalam Ulangan 18, Allah melarang Israel mengikuti cara bangsa-bangsa itu. Umat Allah tidak boleh mencari petunjuk dari kegelapan.

Tetapi Allah tidak hanya melarang. Allah juga menyediakan jalan yang benar.

Allah berjanji akan membangkitkan seorang nabi dari tengah umat-Nya, seorang nabi seperti Musa, dan berkata:

“Dialah yang harus kamu dengarkan.”

Di sinilah topik “Nabi Yang Akan Datang” menjadi sangat penting. Ini bukan sekadar pembahasan tentang satu jabatan nabi. Ini adalah pembahasan tentang bagaimana Allah berbicara kepada manusia, bagaimana manusia harus mendengar Allah, dan bagaimana seluruh penyataan Allah mencapai puncaknya dalam Kristus.


Jawaban Singkat: Siapakah Nabi Yang Akan Datang?

Nabi Yang Akan Datang adalah Kristus.

Ia adalah Dia yang dibangkitkan Allah dari tengah umat perjanjian. Ia datang seperti Musa, tetapi jauh melampaui Musa. Musa menyampaikan firman Allah, tetapi Kristus adalah Firman Allah yang diberi tubuh. Musa menjadi perantara perjanjian lama, tetapi Kristus menjadi Pengantara Perjanjian Baru. Musa membawa Israel keluar dari Mesir, tetapi Kristus membawa manusia keluar dari dosa, maut, kegelapan, dan pemerintahan dunia ini.

Karena itu, Ulangan 18:15 tidak hanya mengarahkan kita kepada figur nabi. Ayat ini mengarahkan kita kepada Kristus sebagai suara Allah yang harus didengarkan.

Dalam Perjanjian Baru, penggenapan ini diteguhkan ketika Allah berkata tentang Yesus:

“Dengarkanlah Dia.”
Matius 17:5

Ini adalah gema Ulangan 18. Allah sendiri menunjuk kepada Kristus sebagai Dia yang harus didengarkan.


1. Konteks Ulangan 18: Allah Melarang Suara Gelap dan Menyediakan Suara yang Benar

Ulangan 18:15 tidak boleh dilepaskan dari Ulangan 18:9–14. Sebelum Allah menjanjikan seorang nabi, Allah lebih dulu melarang umat-Nya mengikuti cara bangsa-bangsa mencari petunjuk.

Bangsa-bangsa sekitar Israel mencari arah hidup melalui:

  • tenung,
  • ramal,
  • sihir,
  • mantera,
  • pemanggilan arwah,
  • hubungan dengan roh-roh orang mati,
  • dan praktik-praktik gelap lainnya.

Allah menyebut semua itu sebagai kekejian. Mengapa? Karena semua cara itu membawa manusia mencari suara di luar Allah. Manusia ingin tahu arah hidup, tetapi tidak mau tunduk kepada Allah. Manusia ingin petunjuk, tetapi mencarinya dari sumber yang gelap.

Maka Allah memberikan jalan yang berbeda:

Allah sendiri akan berbicara kepada umat-Nya melalui nabi yang dibangkitkan-Nya.

Ini menunjukkan bahwa Ulangan 18:15 adalah jawaban Allah terhadap kebutuhan manusia untuk mendengar suara yang benar.

Dalam Kerajaan Allah, manusia tidak hidup dari ramalan.
Manusia tidak dipimpin oleh arwah.
Manusia tidak dituntun oleh ketakutan.
Manusia tidak dibentuk oleh suara kegelapan.
Manusia harus mendengar firman Allah.

Karena itu, janji tentang Nabi Yang Akan Datang adalah bagian dari pemerintahan Allah atas umat-Nya. Allah memerintah bukan dengan kegelapan, bukan dengan manipulasi, tetapi dengan firman-Nya.


2. Mengapa Nabi Itu Disebut “Seperti Musa”?

Ulangan 18:15 berkata bahwa nabi itu akan dibangkitkan “sama seperti aku.” Yang berbicara adalah Musa. Jadi, Nabi Yang Akan Datang harus dipahami dalam hubungan dengan Musa.

Musa bukan hanya nabi biasa. Dalam sejarah Israel, Musa memiliki tempat yang sangat khusus.

Musa dipanggil langsung oleh Allah

Musa tidak mengangkat dirinya sendiri. Ia dipanggil Allah dari semak yang menyala. Ia diutus bukan berdasarkan ambisi pribadi, melainkan karena Allah hendak membebaskan umat-Nya.

Demikian juga Kristus datang bukan karena kehendak manusia. Ia datang sebagai Dia yang diutus Bapa.

Musa membawa pembebasan

Musa diutus untuk membawa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Ini bukan sekadar peristiwa politik. Itu adalah tindakan Allah yang menyatakan bahwa umat-Nya tidak boleh terus berada di bawah pemerintahan asing yang memperbudak.

Kristus menggenapi pola itu secara jauh lebih dalam. Ia datang untuk membebaskan manusia dari dosa, maut, kuasa kegelapan, dan pemerintahan dunia ini.

Mesir adalah bayangan perbudakan.
Dosa adalah perbudakan yang lebih dalam.
Keluaran dari Mesir adalah bayangan.
Keselamatan dalam Kristus adalah wujudnya.

Musa menyampaikan firman Allah

Musa berkata kepada Firaun dan kepada Israel: “Beginilah firman TUHAN.” Ia menjadi mulut Allah bagi umat.

Namun Kristus lebih besar daripada Musa. Kristus bukan hanya menyampaikan firman. Kristus adalah Firman yang diberi tubuh.

Musa menjadi perantara perjanjian

Melalui Musa, Israel menerima perjanjian di Sinai. Tetapi perjanjian itu belum membawa kepenuhan pemulihan hati manusia.

Melalui Kristus, Allah menggenapi janji Perjanjian Baru: dosa diampuni, hati diperbarui, Roh Allah diberikan, dan umat Allah hidup dalam pengenalan akan Dia.

Musa melakukan tanda-tanda Allah

Melalui Musa, Allah menyatakan tanda-tanda besar di Mesir, membelah laut, memberi manna, dan menuntun umat di padang gurun.

Melalui Kristus, tanda-tanda Kerajaan Allah dinyatakan: orang sakit disembuhkan, orang berdosa diampuni, orang kerasukan dibebaskan, orang mati dibangkitkan, orang lapar diberi makan, dan kabar baik diberitakan kepada orang miskin.

Musa adalah bayangan besar.
Kristus adalah penggenapan yang jauh lebih besar.


3. “Dari Tengah-Tengahmu”: Nabi Itu Masuk ke Dalam Sejarah Umat

Ulangan 18:15 berkata bahwa nabi itu datang “dari tengah-tengahmu” dan “dari antara saudara-saudaramu.”

Ini berarti Nabi Yang Akan Datang bukan suara asing dari luar sejarah umat Allah. Ia datang dari tengah umat perjanjian. Ia masuk ke dalam sejarah manusia. Ia tidak berbicara dari kejauhan, tetapi hadir di tengah manusia.

Dalam terang Injil, hal ini digenapi dalam Kristus.

Firman Allah diberi tubuh. Ia lahir dalam sejarah. Ia hidup di tengah manusia. Ia mengalami lapar, lelah, penolakan, penderitaan, dan kematian. Tetapi justru melalui jalan itulah Allah menyatakan diri-Nya secara paling dalam.

Kristus bukan hanya membawa berita dari Allah.
Kristus adalah penyataan Allah di tengah manusia.

Karena itu, mendengar Kristus bukan hanya mendengar seorang guru. Mendengar Kristus adalah mendengar Allah yang menyatakan diri-Nya melalui Anak.


4. “Dialah yang Harus Kamu Dengarkan”: Pusat dari Janji Ini

Kalimat paling menentukan dalam Ulangan 18:15 adalah:

“Dialah yang harus kamu dengarkan.”

Dalam Alkitab, mendengar bukan sekadar mendengar suara. Mendengar berarti menerima, memperhatikan, percaya, tunduk, dan taat.

Jadi, perintah ini bukan hanya berarti: “Perhatikan ajarannya.”
Perintah ini berarti: “Tunduklah kepada suara Allah yang datang melalui Dia.”

Di sinilah banyak orang tersandung. Mereka mau mendengar Yesus sebagai guru moral, tetapi tidak mau tunduk kepada-Nya sebagai Tuhan. Mereka mau menerima Yesus sebagai pemberi berkat, tetapi tidak mau mendengar Dia sebagai Raja. Mereka mau mujizat, tetapi tidak mau pemerintahan Allah.

Padahal inti Ulangan 18 adalah ketaatan kepada suara Allah.

Dalam Matius 17, ketika Yesus dimuliakan di atas gunung, Musa dan Elia tampak bersama Dia. Musa mewakili Taurat. Elia mewakili nabi-nabi. Tetapi suara dari awan berkata:

“Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Ini sangat penting. Allah tidak berkata, “Dengarkan Musa dan Elia sebagai pusat.” Allah menunjuk kepada Kristus.

Musa dan Elia penting. Tetapi mereka menunjuk kepada Kristus.
Taurat dan nabi-nabi penting. Tetapi semuanya mengarah kepada Kristus.
Ketika Kristus datang, pusat pendengaran umat Allah adalah Kristus.


5. Apakah Nabi Yang Akan Datang Hanya Menunjuk kepada Para Nabi Israel?

Dalam sejarah Israel, memang ada banyak nabi setelah Musa: Yosua, Samuel, Elia, Elisa, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel, dan nabi-nabi lainnya. Mereka semua memiliki tempat dalam penyataan Allah.

Namun Ulangan 18:15 tidak berhenti pada mereka.

Ulangan 34:10 berkata:

“Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel.”

Kalimat ini menunjukkan bahwa setelah Musa, belum ada nabi yang sepenuhnya seperti Musa. Para nabi memang menyampaikan firman Allah, tetapi tidak ada yang sepenuhnya menggenapi pola Musa sebagai pembebas, perantara perjanjian, pemimpin umat, pembawa tanda-tanda besar, dan penyampai firman Allah dalam posisi yang begitu menentukan.

Karena itu, harapan tentang Nabi Yang Akan Datang tetap terbuka.

Pada zaman Yohanes Pembaptis, orang-orang masih bertanya:

“Engkaukah nabi yang akan datang?”
Yohanes 1:21

Yohanes menjawab bahwa ia bukan. Ia hanya suara yang berseru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan Tuhan.

Ini menunjukkan bahwa pada zaman Yesus, harapan tentang “Nabi itu” masih hidup. Umat menantikan satu penggenapan yang lebih besar.

Dan penggenapan itu adalah Kristus.


6. Tanda-Tanda Penggenapan dalam Pelayanan Yesus

Dalam Yohanes 6, Yesus memberi makan lima ribu orang. Setelah melihat tanda itu, orang banyak berkata:

“Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”
Yohanes 6:14

Mengapa mereka menghubungkan mujizat roti dengan Nabi Yang Akan Datang?

Karena Musa berkaitan dengan manna di padang gurun. Pada zaman Musa, Allah memberi roti dari langit bagi Israel. Ketika Yesus memberi makan orang banyak, mereka melihat pola yang mengingatkan kepada Musa.

Tetapi Yesus segera membawa mereka lebih dalam. Ia berkata bahwa bukan Musa yang memberi roti dari sorga, melainkan Bapa. Lalu Yesus menyatakan diri sebagai Roti Hidup.

Ini berarti Yesus tidak hanya mengulang Musa. Ia menggenapi dan melampaui Musa.

Musa menjadi alat pemeliharaan Allah di padang gurun.
Kristus adalah Roti Hidup yang memberi hidup kepada dunia.

Manna hanya menopang hidup sementara.
Kristus memberi hidup yang kekal.


7. Penggenapan Menurut Pemberitaan Para Rasul

Pemberitaan para rasul sangat penting untuk memahami Ulangan 18:15. Mereka bukan hanya memberitakan Yesus sebagai tokoh besar. Mereka menyatakan bahwa janji Allah dalam Kitab Suci telah digenapi dalam Dia.

Petrus mengutip Ulangan 18

Dalam Kisah Para Rasul 3:22–26, Petrus mengutip nubuatan Musa tentang Nabi Yang Akan Datang dan menerapkannya kepada Yesus.

Petrus menyatakan bahwa Allah telah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya untuk memberkati umat dengan membalikkan mereka dari kejahatan.

Ini menunjukkan bahwa penggenapan Ulangan 18 bukan hanya soal identitas Yesus, tetapi juga soal misi-Nya. Kristus datang untuk membawa pertobatan, pengampunan, pemulihan, dan kembalinya manusia kepada Allah.

Stefanus juga mengutip Ulangan 18

Dalam Kisah Para Rasul 7:37, Stefanus mengutip ayat yang sama. Dalam khotbahnya, Stefanus menunjukkan bahwa Israel sering menolak orang yang diutus Allah.

Mereka menolak Musa.
Mereka menolak nabi-nabi.
Mereka juga menolak Yang Benar.

Dengan demikian, menolak Kristus bukan sekadar menolak seorang guru. Menolak Kristus berarti menolak suara Allah yang telah dijanjikan sejak Musa.


8. Kristus Lebih Besar daripada Musa

Kitab Ibrani menolong kita melihat hubungan Musa dan Kristus dengan sangat jelas.

Ibrani 3:5–6 menyatakan bahwa Musa setia sebagai pelayan dalam rumah Allah, tetapi Kristus setia sebagai Anak atas rumah Allah.

Ini perbedaan besar.

Musa adalah hamba yang setia.
Kristus adalah Anak yang berkuasa.

Musa melayani dalam rumah Allah.
Kristus memerintah atas rumah Allah.

Musa menyampaikan firman.
Kristus adalah Firman.

Musa membawa hukum pada loh batu.
Kristus menggenapi Perjanjian Baru, sehingga hukum Allah ditulis dalam hati oleh pekerjaan Roh.

Musa menjadi perantara perjanjian lama.
Kristus menjadi Pengantara Perjanjian Baru.

Musa mati dan dikuburkan.
Kristus mati, bangkit, naik ke sorga, dan memerintah.

Karena itu, Kristus bukan hanya “Musa kedua.” Kristus adalah penggenapan yang melampaui Musa. Musa adalah bayangan. Kristus adalah wujudnya.


9. Nabi, Imam, dan Raja dalam Satu Pribadi

Dalam Alkitab, manusia membutuhkan tiga hal besar.

Pertama, manusia membutuhkan firman Allah, karena manusia berada dalam gelap dan tidak tahu jalan hidup yang benar.

Kedua, manusia membutuhkan pengampunan dosa, karena manusia bersalah di hadapan Allah dan tidak dapat membersihkan dirinya sendiri.

Ketiga, manusia membutuhkan pemerintahan Allah, karena manusia hidup memberontak dan tidak mampu memerintah dirinya dalam kebenaran.

Kristus menjawab ketiganya.

Sebagai Nabi, Kristus menyatakan Allah dan memberitakan Kerajaan Allah.
Sebagai Imam, Kristus menyerahkan diri-Nya dan menjadi Pengantara.
Sebagai Raja, Kristus memerintah dan membawa umat-Nya hidup di bawah pemerintahan Allah.

Inilah sebabnya “Nabi Yang Akan Datang” tidak boleh dipersempit menjadi sekadar pembawa ajaran. Ia adalah Kristus dalam kepenuhan pekerjaan Allah: menyatakan firman, membawa pengampunan, memberikan Roh, dan memerintah sebagai Raja.


10. Nabi Yang Akan Datang dan Kerajaan Allah

Yesus datang dengan berita utama:

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”
Markus 1:15

Ini menunjukkan bahwa Nabi Yang Akan Datang membawa berita Kerajaan Allah. Ia tidak hanya memberi nasihat pribadi. Ia tidak hanya mengajar moral. Ia menyatakan bahwa pemerintahan Allah sedang datang dan manusia harus bertobat.

Dalam terang Kerajaan Allah, mendengar Kristus berarti:

  • meninggalkan pemerintahan diri sendiri,
  • keluar dari cara hidup lama,
  • bertobat dari dosa,
  • percaya kepada Injil,
  • menerima pemerintahan Kristus,
  • hidup oleh Roh Allah,
  • dan menjadi saksi Kerajaan Allah.

Jadi, “Dialah yang harus kamu dengarkan” bukan hanya panggilan untuk membaca perkataan Yesus. Itu adalah panggilan untuk masuk ke dalam pemerintahan Allah melalui Kristus.


11. Mengapa Banyak Orang Sulit Mendengar Kristus?

Banyak orang tidak keberatan mendengar tentang Yesus selama Yesus hanya menjadi pemberi berkat, tokoh baik, penyembuh, pembuat mujizat, atau inspirasi hidup.

Tetapi ketika Yesus berbicara sebagai Raja yang harus ditaati, manusia mulai menolak.

Mengapa?

Karena mendengar Kristus berarti manusia tidak lagi menjadi pusat hidupnya sendiri.

Suara dunia sering berkata: ikuti keinginanmu.
Kristus berkata: sangkal dirimu.

Suara dunia berkata: cari hidupmu.
Kristus berkata: siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan mendapatkannya.

Suara dunia berkata: jadilah besar menurut ukuran manusia.
Kristus berkata: siapa mau menjadi besar, hendaklah menjadi pelayan.

Suara dunia berkata: amankan hidupmu.
Kristus berkata: ikutlah Aku.

Inilah sebabnya Ulangan 18:15 tetap tajam sampai hari ini. Allah tidak hanya berkata, “Kenalilah Dia.” Allah berkata:

“Dialah yang harus kamu dengarkan.”


12. Ujian terhadap Semua Suara

Ulangan 18 juga memberi peringatan tentang nabi palsu. Ini penting bagi masa kini.

Tidak semua suara yang memakai nama Allah berasal dari Allah. Tidak semua pesan yang terdengar rohani membawa orang kepada Kristus. Tidak semua tanda yang mengagumkan berasal dari kebenaran.

Karena itu, semua suara harus diuji.

Pertanyaannya bukan hanya: apakah suara itu menarik?
Bukan hanya: apakah suara itu populer?
Bukan hanya: apakah suara itu membuat orang merasa kuat?
Bukan hanya: apakah suara itu memakai istilah rohani?

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

  • Apakah suara itu membawa orang mendengar Kristus?
  • Apakah suara itu menundukkan manusia kepada pemerintahan Allah?
  • Apakah suara itu sesuai dengan Injil Kerajaan Allah?
  • Apakah suara itu memimpin kepada pertobatan, pengampunan, dan hidup oleh Roh?
  • Apakah suara itu meninggikan Kristus atau meninggikan manusia?
  • Apakah suara itu membentuk umat yang setia kepada Allah?

Dalam Kerajaan Allah, kebenaran tidak diukur dari keramaian.
Kebenaran tidak diukur dari viralitas.
Kebenaran tidak diukur dari kemampuan membangkitkan emosi.
Kebenaran diukur dari kesesuaian dengan Kristus, Firman Allah, dan pekerjaan Roh Kebenaran.


13. Garis Nubuatan dan Penggenapan

Berikut garis besar nubuatan dan penggenapan tentang Nabi Yang Akan Datang:

Bagian AlkitabIsi KesaksianPenggenapan dalam Kristus
Ulangan 18:15–19Allah menjanjikan nabi seperti Musa yang harus didengarkanKristus datang sebagai suara Allah yang final
Ulangan 34:10–12Belum ada nabi seperti MusaHarapan tetap terbuka sampai Kristus
Yohanes 1:19–21Yohanes Pembaptis ditanya apakah ia “Nabi itu”Yohanes bukan penggenapan; ia mempersiapkan jalan
Yohanes 6:14Orang banyak melihat Yesus sebagai Nabi Yang Akan DatangTanda roti menunjuk kepada Kristus sebagai Roti Hidup
Matius 17:5Allah berkata: “Dengarkanlah Dia”Kristus ditegaskan sebagai pusat pendengaran umat Allah
Kisah Para Rasul 3:22–26Petrus mengutip Ulangan 18Yesus dinyatakan sebagai penggenapan janji Musa
Kisah Para Rasul 7:37Stefanus mengutip Ulangan 18Yesus dinyatakan sebagai Yang ditolak umat tetapi diutus Allah
Ibrani 1:1–2Allah berbicara melalui AnakKristus adalah puncak penyataan Allah
Ibrani 3:1–6Kristus lebih besar dari MusaMusa hamba, Kristus Anak atas rumah Allah

14. Apa Artinya bagi Orang Percaya Hari Ini?

Topik Nabi Yang Akan Datang bukan hanya bahan penelitian. Ini menyentuh cara hidup orang percaya setiap hari.

Pertama, orang percaya harus berhenti mencari suara dari kegelapan

Bentuknya hari ini mungkin berbeda dari zaman kuno, tetapi akarnya sama. Manusia tetap tergoda mencari kepastian di luar Allah: ramalan, ketakutan, tren, suara mayoritas, ambisi pribadi, atau sistem dunia.

Umat Kristus harus kembali kepada suara Kristus.

Kedua, orang percaya harus tinggal dalam firman Kristus

Yesus berkata:

“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.”
Yohanes 8:31

Murid Kristus bukan hanya orang yang pernah mendengar. Murid Kristus adalah orang yang tinggal dalam firman-Nya.

Ketiga, orang percaya harus hidup oleh Roh Allah

Kristus tidak hanya memberi ajaran dari luar. Melalui Roh Kudus, Allah bekerja di dalam orang percaya. Roh Kebenaran menuntun kepada seluruh kebenaran, mengingatkan perkataan Kristus, dan membentuk hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.

Keempat, orang percaya harus menguji semua ajaran

Tidak semua yang terdengar rohani berasal dari Roh Allah. Semua harus diuji dalam terang Kristus, Injil Kerajaan Allah, dan kesaksian Kitab Suci.

Kelima, orang percaya harus memberitakan Kristus

Pemberitaan Injil bukan sekadar mengajak orang kepada kegiatan agama. Pemberitaan Injil adalah menyatakan Kristus sebagai Tuhan, Raja, Juruselamat, Pengantara, dan Nabi Yang Harus Didengarkan.


15. Ringkasan Utama

Nabi Yang Akan Datang dalam Ulangan 18:15 adalah janji Allah tentang suara yang benar bagi umat-Nya.

Janji ini lahir dalam konteks penolakan terhadap suara kegelapan. Allah tidak mau umat-Nya mencari arah melalui tenung, ramal, sihir, arwah, atau praktik bangsa-bangsa. Allah sendiri menyediakan jalan: Ia akan berbicara melalui nabi yang dibangkitkan-Nya.

Dalam sejarah Israel, para nabi menjadi bagian dari penyataan Allah. Namun tidak ada nabi yang sepenuhnya seperti Musa sampai Kristus datang.

Kristus adalah penggenapan janji itu.

Musa membawa Israel keluar dari Mesir.
Kristus membawa manusia keluar dari dosa dan maut.

Musa menyampaikan firman Allah.
Kristus adalah Firman Allah yang diberi tubuh.

Musa menjadi perantara perjanjian lama.
Kristus menjadi Pengantara Perjanjian Baru.

Musa melayani sebagai hamba dalam rumah Allah.
Kristus memerintah sebagai Anak atas rumah Allah.

Karena itu, perintah Allah tetap jelas:

“Dialah yang harus kamu dengarkan.”


Pesan Penutup

Dunia akan terus menawarkan banyak suara.

Ada suara yang menjanjikan keberhasilan.
Ada suara yang membangkitkan ketakutan.
Ada suara yang membuat manusia merasa kuat tanpa pertobatan.
Ada suara yang tampak rohani, tetapi tidak membawa orang kepada Kristus.
Ada suara yang menyenangkan telinga, tetapi menjauhkan hati dari pemerintahan Allah.

Tetapi di tengah semua suara itu, Allah telah menunjuk kepada satu Pribadi:

Kristus.

Dialah Nabi Yang Akan Datang.
Dialah Firman yang diberi tubuh.
Dialah Pengantara Perjanjian Baru.
Dialah Raja yang membawa pemerintahan Allah.
Dialah suara Allah yang harus didengarkan.

Maka pertanyaan akhirnya bukan hanya: apakah kita tahu siapa Nabi Yang Akan Datang?

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

Apakah kita sungguh mendengarkan Dia?

Apakah firman-Nya membentuk pikiran kita?
Apakah suara-Nya menentukan keputusan kita?
Apakah pemerintahan-Nya mengatur hidup kita?
Apakah Roh-Nya memimpin jalan kita?
Apakah Injil Kerajaan Allah menjadi berita yang kita hidupi dan sampaikan?

Nabi Yang Akan Datang sudah datang.
Suara Allah sudah dinyatakan.
Firman sudah diberi tubuh.
Kerajaan Allah sudah diberitakan.
Roh Allah sudah dicurahkan.

Sekarang, panggilannya jelas:

Dengarkan Kristus.
Tinggallah dalam firman-Nya.
Hiduplah oleh Roh Allah.
Tunduklah kepada pemerintahan-Nya.
Dan sampaikan Injil Kerajaan Allah kepada dunia yang masih tenggelam dalam begitu banyak suara.

Penulis & Penanggung Jawab

Onekhesi Zega

Penulis dan peneliti Menurut Tulisan. Mengembangkan tulisan, pengajaran, dan pembelajaran untuk menolong pembaca melihat seluruh Alkitab dalam terang Kerajaan Allah, Injil Kristus, dan tuntunan Roh Kebenaran.