Artikel

Kristus Telah Membayar Lunas

30 Juni 2026 oleh Onekhesi Zega

Meluruskan Istilah “Bayar Harga” dalam Terang Injil Kerajaan Allah

Istilah “bayar harga” sering terdengar dalam kekristenan modern. Sekilas, istilah ini tampak rohani karena dikaitkan dengan pelayanan, pengorbanan, doa, puasa, penderitaan, dan kesetiaan. Namun dalam terang Injil Kerajaan Allah, istilah ini perlu diuji dengan serius: apakah manusia benar-benar sedang membayar sesuatu kepada Allah, ataukah Kristuslah yang telah membayar lunas penebusan manusia?

Pengantar

Dalam banyak percakapan pelayanan, mimbar, kelas pemuridan, dan nasihat rohani, istilah “bayar harga” sering terdengar. Seseorang berkata, “Kalau mau dipakai Tuhan, harus bayar harga.” Yang lain berkata, “Kalau mau mengalami terobosan, harus bayar harga.” Ada juga yang berkata, “Mengikut Tuhan itu harus bayar harga.”

Sekilas, kalimat itu terdengar rohani. Maksudnya mungkin baik: mendorong orang percaya untuk tidak hidup sembarangan, tidak malas, tidak egois, dan tidak menghindar dari penderitaan karena Kristus. Namun istilah yang terdengar baik tetap harus diuji. Dalam terang Injil Kerajaan Allah, setiap istilah harus diperiksa: apakah ia menolong manusia melihat Kristus dengan benar, atau justru menggeser pusat Injil dari karya Allah kepada usaha manusia?

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Apakah istilah itu populer?” tetapi, “Apakah istilah itu sesuai dengan kesaksian Alkitab?”

Alkitab memang berbicara tentang harga. Alkitab berbicara tentang pembelian. Alkitab berbicara tentang penebusan. Alkitab berbicara tentang darah yang mahal. Tetapi ketika Alkitab memakai bahasa itu, pusatnya bukan pada manusia yang membayar kepada Allah. Pusatnya adalah Allah yang bertindak melalui Kristus untuk menebus manusia.

Di sinilah istilah “bayar harga” perlu diluruskan.

Teologi: Pengenalan akan Allah yang Berasal dari Allah Sendiri

Sebelum membahas lebih jauh, perlu ditegaskan bahwa pembahasan ini bukan dibangun dari spekulasi manusia tentang Allah. Teologi yang dimaksud di sini bukan usaha manusia mengenal Allah dari logika, sistem aliran, atau kebiasaan gerejawi. Teologi yang benar adalah pengenalan akan Allah yang Allah sendiri berikan melalui penyataan-Nya.

Allah menyatakan diri-Nya melalui Firman, melalui Injil Kerajaan Allah, melalui Yesus Kristus, dan melalui pekerjaan Roh Kebenaran yang menuntun manusia kepada seluruh kebenaran. Akal manusia bukan hakim atas Allah. Akal manusia hanyalah alat yang harus ditundukkan kepada Allah untuk menerima, menata, menguji, dan menyampaikan penyataan Allah dengan takut akan Dia.

Karena itu, tulisan ini tidak berangkat dari pertanyaan, “Apa pendapat manusia tentang Allah?” melainkan, “Apa yang Allah nyatakan tentang diri-Nya, tentang manusia, tentang dosa, tentang Kristus, tentang penebusan, dan tentang hidup orang percaya dalam Kerajaan-Nya?”

1. Masalah Utama: Istilah yang Menggeser Pusat Injil

Istilah dapat membentuk cara berpikir. Cara berpikir membentuk sikap hati. Sikap hati membentuk tindakan. Karena itu, istilah yang sering dipakai dalam pengajaran rohani tidak boleh dianggap ringan.

Jika orang terus-menerus mendengar, “Kamu harus bayar harga,” tanpa penjelasan yang benar, perlahan-lahan mereka bisa berpikir bahwa Allah baru berkenan jika manusia cukup berkorban. Mereka bisa merasa bahwa doa, puasa, pelayanan, pemberian, penderitaan, dan kesetiaan adalah semacam alat pembayaran kepada Allah.

Di sinilah bahayanya.

Sebab Injil Kerajaan Allah tidak dimulai dari manusia yang membawa pembayaran kepada Allah. Injil dimulai dari Allah yang datang menyelamatkan manusia yang tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri.

Manusia tidak mampu membeli pengampunan. Manusia tidak mampu melunasi dosa. Manusia tidak mampu membebaskan dirinya dari kuasa maut. Manusia tidak mampu membuat dirinya layak di hadapan Allah. Karena itu, jika istilah “bayar harga” dipakai tanpa penjernihan, istilah itu dapat mengaburkan inti Injil.

Inti Injil bukan: manusia membayar supaya Allah menerima.
Inti Injil adalah: Allah bertindak melalui Kristus untuk menebus manusia, lalu manusia yang menerima penebusan itu hidup sebagai milik Allah.

2. Bahasa Alkitab: Dibeli, Ditebus, Darah, Tebusan, dan Milik Allah

Alkitab memakai beberapa istilah penting untuk menjelaskan karya Allah bagi manusia.

Paulus menulis bahwa orang percaya telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu, tubuh orang percaya harus dipakai untuk memuliakan Allah. Rujukan pentingnya adalah 1 Korintus 6:19–20 dan 1 Korintus 7:23.

Petrus menulis bahwa orang percaya telah ditebus, bukan dengan barang fana seperti perak atau emas, melainkan dengan darah Kristus yang mahal. Rujukan pentingnya adalah 1 Petrus 1:18–19.

Yesus sendiri berkata bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Rujukan pentingnya adalah Markus 10:45.

Dalam semua rujukan ini, arah pembayarannya jelas: bukan manusia membayar kepada Allah, melainkan Allah bertindak melalui Kristus untuk menebus manusia.

Itulah sebabnya bahasa Alkitab tidak berkata, “Bayarlah kepada Allah supaya engkau menjadi milik-Nya.” Sebaliknya, Alkitab berkata, “Kamu telah dibeli.” Artinya, status hidup orang percaya sudah berubah. Dahulu manusia hidup di bawah dosa, maut, dan kuasa gelap. Sekarang, melalui Kristus, manusia ditebus, diampuni, dan dipindahkan ke dalam Kerajaan Anak-Nya.

Kolose 1:13–14 menyatakan bahwa Allah melepaskan umat-Nya dari kuasa kegelapan dan memindahkan mereka ke dalam Kerajaan Anak-Nya; di dalam Dia ada penebusan, yaitu pengampunan dosa.

Ini bukan bahasa transaksi manusia. Ini bahasa Kerajaan Allah.

3. Siapa Sebenarnya yang Membayar?

Jawaban Alkitab jelas: Allah sendiri yang membayar melalui Yesus Kristus.

Bukan manusia yang membayar keselamatannya.
Bukan gereja yang membayar keselamatan manusia.
Bukan amal yang membayar dosa.
Bukan pelayanan yang membeli perkenanan Allah.
Bukan puasa yang melunasi pemberontakan manusia.
Bukan air mata yang membuat manusia layak.
Bukan penderitaan yang menjadikan manusia benar di hadapan Allah.

Yang membayar adalah Allah melalui Kristus.

Yohanes 3:16 menyatakan bahwa Allah mengasihi dunia dan mengaruniakan Anak-Nya. Roma 5:8 menyatakan bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya ketika Kristus mati bagi manusia berdosa. Ibrani 9:14 menyatakan bahwa Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah oleh Roh yang kekal.

Maka salib bukan peristiwa manusia mempersembahkan sesuatu supaya Allah berubah menjadi baik. Salib adalah tindakan Allah yang kudus, benar, dan penuh kasih untuk menebus manusia dari dosa, maut, dan kuasa gelap.

Allah tidak menjual keselamatan. Allah memberikan penebusan.
Manusia tidak membeli pengampunan. Manusia menerima pengampunan dengan iman.
Orang percaya tidak membayar agar menjadi milik Allah. Orang percaya menjadi milik Allah karena telah ditebus.

4. Apa yang Dibayar?

Dalam terang Alkitab, Kristus membayar apa yang tidak dapat dibayar manusia. Pembayaran ini tidak boleh dipahami secara sempit sebagai transaksi dagang. Ini adalah bahasa penebusan yang menunjukkan beratnya dosa, mahalnya darah Kristus, dan sempurnanya karya Allah.

Pertama, dosa manusia

Dosa bukan sekadar kelemahan moral. Dosa adalah pemberontakan terhadap Allah sebagai Raja. Dalam terang Kerajaan Allah, dosa adalah manusia yang menolak pemerintahan Allah dan hidup di bawah kehendaknya sendiri.

Roma 6:23 menyatakan bahwa upah dosa adalah maut. Karena itu, dosa bukan masalah kecil. Dosa membawa manusia kepada maut dan penghukuman.

Manusia tidak dapat membayar hutang dosa dengan perbuatan baik. Perbuatan baik tidak dapat menghapus pemberontakan masa lalu. Hanya darah Kristus yang membersihkan manusia dari dosa. Efesus 1:7 menyatakan bahwa di dalam Kristus dan oleh darah-Nya, orang percaya memperoleh penebusan, yaitu pengampunan dosa.

Kedua, kutuk dan penghukuman

Galatia 3:13 menyatakan bahwa Kristus menebus umat-Nya dari kutuk hukum Taurat dengan menjadi kutuk karena manusia. Ini menunjukkan bahwa penebusan bukan permainan perasaan. Ada tuntutan kebenaran Allah. Ada penghukuman yang seharusnya menimpa manusia berdosa. Kristus menanggungnya.

Allah tidak mengampuni dengan cara pura-pura dosa tidak ada. Allah mengampuni melalui karya Kristus yang menanggung akibat dosa manusia. Karena itu, pengampunan bukan murah. Pengampunan diberikan cuma-cuma kepada manusia, tetapi dibayar mahal oleh Kristus.

Ketiga, kuasa maut

Maut bukan hanya berhentinya napas. Maut adalah akibat dosa dan tanda bahwa manusia berada di bawah kuasa yang tidak dapat ia kalahkan sendiri. Kristus masuk ke dalam kematian, lalu bangkit. Kebangkitan-Nya menyatakan kemenangan Allah atas maut.

1 Korintus 15:55–57 menyatakan kemenangan atas maut melalui Yesus Kristus. Maka pembayaran Kristus tidak berhenti pada penghapusan catatan dosa, tetapi membuka jalan kemenangan atas maut dan hidup baru di hadapan Allah.

Keempat, perbudakan dosa

Yesus berkata dalam Yohanes 8:34 bahwa setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Manusia bukan hanya bersalah; manusia juga diperbudak. Dosa mengikat pikiran, kehendak, tubuh, kebiasaan, ambisi, dan arah hidup manusia.

Karena itu, penebusan Kristus bukan hanya menghapus kesalahan, tetapi membebaskan manusia dari tuan lama. Orang yang ditebus tidak lagi hidup sebagai hamba dosa, tetapi sebagai milik Allah.

Kelima, kepemilikan hidup

1 Korintus 6:19–20 menegaskan bahwa orang percaya bukan milik dirinya sendiri karena telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Ini sangat penting.

Keselamatan bukan hanya urusan “saya diampuni” atau “saya tidak dihukum”. Keselamatan juga berarti kepemilikan hidup berpindah. Orang percaya tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Ia hidup di bawah pemerintahan Allah.

Inilah inti Kerajaan Allah: manusia kembali kepada Raja yang sah atas hidupnya.

5. DCT Pembayaran oleh Kristus

Agar pembahasan ini utuh, kita dapat memakai kerangka DCT: Dasar, Cara, Tujuan.

Dasar pembayaran

Dasarnya adalah kasih Allah, kekudusan Allah, keadilan Allah, kesetiaan Allah pada janji-Nya, dan ketidakmampuan manusia menyelamatkan dirinya sendiri.

Allah tidak bertindak karena manusia layak. Allah bertindak karena kasih-Nya. Roma 5:8 menyatakan bahwa Kristus mati bagi manusia ketika manusia masih berdosa. Ini berarti kasih Allah mendahului perubahan manusia.

Namun kasih Allah tidak mengabaikan kekudusan dan keadilan-Nya. Allah tidak menyelamatkan manusia dengan menutup mata terhadap dosa. Allah menebus manusia melalui Kristus, sehingga pengampunan diberikan tanpa meruntuhkan kebenaran Allah.

Dasar lainnya adalah ketidakmampuan manusia. Efesus 2:8–9 menyatakan bahwa keselamatan adalah kasih karunia, bukan hasil usaha manusia. Jika manusia dapat membayar keselamatannya sendiri, salib tidak diperlukan. Tetapi justru karena manusia tidak mampu, Allah bertindak.

Cara pembayaran

Caranya adalah melalui kedatangan Kristus, kehidupan-Nya yang taat, darah-Nya yang tercurah, kematian-Nya di salib, kebangkitan-Nya, dan pekerjaan Roh Allah yang menerapkan karya itu dalam hidup manusia.

Yohanes 1:14 menyatakan bahwa Firman menjadi manusia. Kristus masuk ke dalam sejarah manusia, tubuh manusia, penderitaan manusia, dan dunia yang berada di bawah dosa.

Roma 5:19 menunjukkan bahwa ketaatan Kristus berhadapan dengan ketidaktaatan manusia. Kristus taat di hadapan Allah sampai kepada kematian. Melalui darah-Nya, manusia ditebus. Melalui kebangkitan-Nya, kuasa maut dikalahkan.

Namun manusia tidak dapat memahami, menerima, dan hidup dalam penebusan ini tanpa pekerjaan Roh Allah. Roh Kebenaran menyadarkan manusia akan dosa, membawa manusia kepada Kristus, meneguhkan iman, dan menghasilkan ketaatan yang berkenan kepada Allah.

Filipi 2:13 menyatakan bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam orang percaya kemauan dan pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

Tujuan pembayaran

Tujuan pembayaran Kristus adalah pengampunan dosa, pendamaian dengan Allah, pembebasan dari kuasa gelap, pemindahan ke dalam Kerajaan Anak-Nya, dan pembentukan umat yang hidup sebagai milik Allah.

Wahyu 5:9–10 menyatakan bahwa Kristus membeli manusia bagi Allah dengan darah-Nya dan membuat mereka menjadi kerajaan dan imam-imam bagi Allah. Ini menunjukkan bahwa penebusan tidak berhenti pada pengampunan pribadi. Penebusan membentuk umat Kerajaan.

Kristus tidak menebus manusia supaya manusia tetap hidup bagi dirinya sendiri. Kristus menebus manusia supaya manusia hidup bagi Allah.

6. Jika Kristus Sudah Membayar Lunas, Mengapa Orang Masih Berkata “Bayar Harga”?

Istilah “bayar harga” biasanya muncul karena orang ingin menekankan kesungguhan dalam mengikut Kristus. Memang benar, mengikut Kristus bukan hidup sembarangan. Yesus berkata bahwa siapa yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia. Rujukannya antara lain Matius 16:24 dan Lukas 9:23.

Yesus juga mengajarkan agar orang menghitung biaya sebelum menjadi murid. Lukas 14:28 memakai gambaran seseorang yang hendak membangun menara dan perlu menghitung biayanya.

Tetapi kita harus membedakan dengan jelas: Yesus sedang berbicara tentang konsekuensi mengikut Dia, bukan tentang cara membayar keselamatan.

Inilah perbedaannya:

Kristus membayar harga penebusan.
Murid menanggung konsekuensi ketaatan.

Kristus membayar dosa.
Murid memikul salib.

Kristus menebus manusia.
Murid menyerahkan hidup karena sudah ditebus.

Kristus membebaskan dari kuasa dosa.
Murid hidup oleh Roh dan tidak lagi menyerahkan tubuh kepada dosa.

Jika perbedaan ini kabur, pemuridan dapat berubah menjadi transaksi agamawi. Orang bisa berpikir bahwa makin besar pengorbanannya, makin besar haknya menuntut Allah. Ini bukan Injil Kerajaan Allah.

7. Tiga Penyimpangan Istilah “Bayar Harga”

Pertama, ketika dipakai seolah-olah manusia membayar keselamatan

Ini penyimpangan paling serius. Tidak ada manusia yang dapat membayar keselamatannya. Mazmur 49:8–9 menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya atau memberi tebusan kepada Allah bagi nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawa itu.

Keselamatan bukan hasil pekerjaan manusia. Efesus 2:8–9 menegaskan bahwa keselamatan adalah pemberian Allah. Karena itu, berkata “saya bayar harga supaya diselamatkan” bertentangan dengan Injil.

Kedua, ketika dipakai untuk membeli berkat

Ada pengajaran yang membuat manusia berpikir bahwa Allah akan memberkati jika manusia cukup berkorban. Jika seseorang memberi, melayani, berpuasa, atau menderita, lalu merasa Allah wajib membalas sesuai tuntutannya, itu bukan penyerahan diri. Itu transaksi.

Roma 11:35 mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah memberi sesuatu kepada Allah sehingga Allah harus membalasnya. Allah tidak berutang kepada manusia. Semua yang dimiliki manusia berasal dari Allah.

Ketiga, ketika dipakai untuk meninggikan manusia rohani

Istilah “bayar harga” dapat menumbuhkan kesombongan halus. Seseorang bisa berkata dalam hati, “Saya lebih berkorban. Saya lebih menderita. Saya lebih layak dipakai.” Padahal segala ketaatan yang benar hanya mungkin karena kasih karunia Allah dan pekerjaan Roh Allah.

1 Korintus 15:10 menunjukkan sikap yang benar: oleh kasih karunia Allah seseorang dapat menjadi sebagaimana ia ada, dan kasih karunia itu bekerja di dalam dirinya.

Ketaatan sejati tidak membanggakan manusia. Ketaatan sejati memuliakan Allah.

8. DCT Ketaatan Murid Setelah Ditebus

Jika istilah “bayar harga” mau dipakai, ia harus dibatasi dengan penjelasan yang sangat jelas: bukan membayar dosa, bukan membeli keselamatan, bukan membeli berkat, bukan membuat Allah berutang, melainkan menanggung konsekuensi karena setia kepada Kristus.

Namun bahasa yang lebih sehat adalah bahasa Alkitab: menyangkal diri, memikul salib, mempersembahkan tubuh, hidup oleh Roh, menghasilkan buah, setia kepada Raja, dan menjadi saksi Kerajaan.

Dasar ketaatan

Dasar ketaatan bukan rasa takut ditolak Allah, melainkan kemurahan Allah yang sudah diterima.

Roma 12:1 berkata agar orang percaya mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup “demi kemurahan Allah”. Urutannya penting. Bukan mempersembahkan tubuh supaya Allah bermurah hati, melainkan karena Allah telah menunjukkan kemurahan-Nya.

Ketaatan bukan alat untuk memperoleh identitas. Ketaatan adalah hidup sesuai identitas baru sebagai milik Allah.

Cara ketaatan

Cara ketaatan adalah hidup oleh Roh, bukan oleh kekuatan daging.

Galatia 5:16 berkata: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Yohanes 15:5 menyatakan bahwa di luar Kristus manusia tidak dapat berbuat apa-apa.

Pelayanan, pengorbanan, pemberian, doa, puasa, kesetiaan, dan penderitaan hanya berkenan kepada Allah jika lahir dari hidup yang sudah diampuni dan dipimpin oleh Roh Allah. Di luar itu, manusia mudah menjadikan ketaatan sebagai alat untuk membangun nama sendiri.

Tujuan ketaatan

Tujuan ketaatan bukan supaya manusia terlihat hebat. Tujuan ketaatan adalah supaya Allah dimuliakan, Kristus disaksikan, Injil Kerajaan Allah dinyatakan, dan hidup orang percaya menjadi buah dari penebusan.

2 Korintus 5:15 menyatakan bahwa Kristus telah mati supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan dibangkitkan bagi mereka.

Itulah tujuan ketaatan: bukan membayar Allah, tetapi hidup bagi Allah.

9. Perbuatan Baik Hanya Berkenan Setelah Injil dan Roh Bekerja

Ini hal yang sangat penting. Perbuatan manusia tidak otomatis berkenan kepada Allah hanya karena tampak baik di luar. Roma 8:7–8 menyatakan bahwa keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah dan mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah. Ibrani 11:6 menyatakan bahwa tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.

Artinya, tindakan lahiriah yang tampak baik harus diuji dari sumbernya. Apakah itu lahir dari iman kepada Kristus? Apakah itu buah pengampunan? Apakah itu dikerjakan oleh Roh Allah? Apakah itu membawa manusia tunduk kepada Allah sebagai Raja?

Efesus 2:10 menunjukkan urutan yang benar: orang percaya adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Jadi pekerjaan baik bukan akar keselamatan, melainkan buah dari hidup baru.

Urutannya bukan:

berbuat baik → diterima Allah → ditebus.

Urutan Injil adalah:

ditebus oleh Kristus → diampuni → hidup baru oleh Roh Allah → melakukan pekerjaan baik sebagai buah.

10. Bahasa yang Lebih Jernih daripada “Bayar Harga”

Karena istilah “bayar harga” mudah membawa pikiran transaksi, lebih baik memakai bahasa yang lebih dekat dengan Alkitab.

Daripada berkata, “Saya harus bayar harga supaya Allah berkenan,” katakanlah:

Saya telah ditebus, maka saya hidup sebagai milik Allah.
Saya telah diampuni, maka saya mempersembahkan tubuh kepada Allah.
Saya telah dibeli dengan harga yang mahal, maka saya tidak hidup untuk diri sendiri.
Saya mengikut Kristus, maka saya menyangkal diri.
Saya setia kepada Raja, maka saya memikul salib.
Saya hidup oleh Roh, maka saya menolak keinginan daging.
Saya menerima Injil, maka saya menjadi saksi Kerajaan Allah.
Saya tidak membeli kasih Allah; saya hidup karena sudah dikasihi Allah.

Bahasa ini lebih aman karena menjaga pusat Injil tetap pada karya Allah, bukan pada prestasi manusia.

11. Perbandingan Sederhana

Pembayaran Kristus adalah dasar penebusan.
Ketaatan murid adalah buah penebusan.

Pembayaran Kristus bersifat sempurna dan cukup.
Ketaatan murid berlangsung seumur hidup.

Pembayaran Kristus menyelamatkan manusia.
Ketaatan murid menyatakan bahwa manusia sudah menjadi milik Allah.

Pembayaran Kristus dilakukan melalui darah-Nya.
Ketaatan murid dilakukan oleh pertolongan Roh Allah.

Pembayaran Kristus tidak perlu ditambah oleh manusia.
Ketaatan murid tidak boleh dipakai untuk membanggakan manusia.

Dengan demikian, pengorbanan orang percaya bukan pembayaran kepada Allah. Pengorbanan orang percaya adalah kesaksian bahwa hidupnya sudah dimiliki Allah.

12. Kesimpulan dalam Terang Kerajaan Allah

Dalam terang Injil Kerajaan Allah, istilah “pembayaran” harus dikembalikan kepada pusatnya: Allah bertindak melalui Kristus untuk menebus manusia yang tidak sanggup membayar dosa, tidak sanggup mengalahkan maut, dan tidak sanggup membebaskan dirinya dari kuasa gelap.

Kristus telah membayar lunas.
Manusia menerima penebusan itu dengan iman.
Roh Allah menghidupkan, menuntun, dan menghasilkan ketaatan.
Orang percaya hidup sebagai milik Allah di bawah pemerintahan Raja.

Karena itu, kita harus berhati-hati dengan istilah “bayar harga”. Jika yang dimaksud adalah membayar dosa, membeli keselamatan, membeli berkat, atau membuat Allah berutang, maka istilah itu harus ditolak. Jika yang dimaksud adalah menanggung konsekuensi sebagai murid Kristus, maka lebih baik dijelaskan dengan bahasa Alkitab: menyangkal diri, memikul salib, hidup oleh Roh, mempersembahkan tubuh, setia kepada Raja, dan menjadi saksi Kerajaan Allah.

Kalimat penutupnya sederhana:

Aku tidak membayar supaya Allah mengasihiku.
Kristus telah membayar lunas karena Allah mengasihi manusia.
Sekarang aku hidup sebagai milik Allah oleh pekerjaan Roh-Nya.

Referensi Alkitab untuk Pendalaman

Penebusan dan pembayaran oleh Kristus:
Markus 10:45; Yohanes 3:16; Yohanes 19:30; Roma 3:24–26; Roma 5:8–11; 1 Korintus 6:19–20; 1 Korintus 7:23; Galatia 3:13; Efesus 1:7; Kolose 1:13–14; Kolose 2:13–15; Ibrani 9:12–14; Ibrani 10:10–14; 1 Petrus 1:18–19; Wahyu 5:9–10.

Ketidakmampuan manusia membayar keselamatan:
Mazmur 49:8–9; Yesaya 64:6; Roma 8:7–8; Efesus 2:8–9; Titus 3:5.

Ketaatan sebagai buah penebusan:
Yohanes 15:5; Roma 12:1–2; 1 Korintus 15:10; Galatia 5:16–25; Efesus 2:10; Filipi 2:12–13; Ibrani 11:6.

Konsekuensi mengikut Kristus:
Matius 6:33; Matius 16:24–26; Lukas 9:23; Lukas 14:25–33; 2 Korintus 5:15; Wahyu 2:10.

Catatan untuk Pembaca

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyerang orang yang pernah memakai istilah “bayar harga”. Banyak orang memakai istilah itu dengan maksud baik. Namun maksud baik tetap perlu dipimpin oleh terang Firman. Jika sebuah istilah mudah menggeser pusat Injil dari karya Kristus kepada usaha manusia, istilah itu perlu dijernihkan.

Kristus tidak perlu dibantu untuk menyelesaikan penebusan. Ia telah membayar lunas. Yang diperlukan sekarang adalah umat yang sadar bahwa mereka sudah ditebus, lalu hidup setia sebagai milik Allah di bawah pemerintahan-Nya.

Penulis & Penanggung Jawab

Onekhesi Zega

Penulis dan peneliti Menurut Tulisan. Mengembangkan tulisan, pengajaran, dan pembelajaran untuk menolong pembaca melihat seluruh Alkitab dalam terang Kerajaan Allah, Injil Kristus, dan tuntunan Roh Kebenaran.

Penelitian Terkait